14 Maret 2017

741

Beberapa waktu yang lalu, angkot (angkutan kota) se-Bandung Raya mogok massal.

Foto diambil dari sini.

Mereka berunjuk rasa atas maraknya angkutan online yang menggerus pendapatan mereka. Banyak pengguna kendaraan pribadi dan angkutan online bersorak-sorai gembira karena seharian banyak jalan yang biasanya macet menjadi agak longgar. Sebaliknya banyak pengguna angkot terpaksa diangkut polisi atau Pak Camat, naik taksi atau ojek baik online maupun konvensional, naik kendaraan pribadi, berjalan kaki, atau bahkan batal bepergian sama sekali.

Bukan sekali ini saja angkot Bandung mogok. Dan bukan sekali ini juga sorak-sorai dan seruan agar angkot dihilangkan saja menyeruak. Sebagai awam dan pengguna angkot, pandangan saya tentu bias. Tapi saya ingin para penentang angkot sedikit saja mempertimbangkan hal-hal berikut ini.


Yang Pertama Adalah Angkutan Umum
Setiap kota yang fungsional membutuhkan angkutan umum yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan. Angkutan umum memungkinkan efisiensi penggunaan jalan—yang artinya menghindarkan kemacetan dan pencemaran udara—sekaligus memeratakan akses mobilitas.

Apakah angkot di Bandung sudah memenuhi fungsi-fungsi di atas? Memang belum sepenuhnya, tapi juga bukannya tidak sama sekali. Angkot di Bandung memang memiliki sederet masalah: sering ngetem sembarangan, supir ugal-ugalan, tarif tidak jelas, penumpang naik-turun seenaknya, dan rute yang sudah tidak mengakomodir pergerakan warga. Tapi pada kenyataannya, saat ini angkutan umum yang tersedia di Bandung hanyalah bus kota dan angkot. Jangkauan angkot saat ini lebih luas dari bus yang rutenya masih terbatas. Dengan segala kekurangannya, inilah angkutan umum yang dimiliki Bandung sekarang.


Kenapa Harus Angkot?
Sebenarnya dengan prinsip di atas, ya nggak harus angkot juga sih. Tapi ada beberapa alasan mengapa menurut saya, jika dilakukan pembenahan, angkot masih layak dipertahankan.

Pertama, biaya pembenahan angkot lebih kecil dibandingkan pengadaan angkutan umum yang lain. Setidaknya pembenahan angkot hanya memerlukan sedikit perbaikan/pembangunan infrastruktur berupa halte—yang bahkan bisa ditekan dengan hanya membuat penanda seperti di gambar ini. Oya, dan perbaikan trotoar, tapi apapun angkutan umumnya, trotoar tetap harus diperbaiki. Mobil-mobil memang harus diremajakan, tapi bisa dilakukan bertahap. Jika konversi tiga-angkot-menjadi-satu-bus jadi dilakukan, angkot-angkot yang sudah uzur bisa didahulukan.

Yang jauh lebih sulit dibandingkan pembangunan infrastruktur adalah pembenahan sistem. Sebagian perilaku angkot yang menyebalkan disebabkan karena angkot masih menganut sistem kejar setoran. Jika supir angkot digaji per km perjalanan (idealnya oleh pemerintah), perilaku seperti ngetem atau ugal-ugalan bisa dihindarkan. Kendalanya, kepemilikan angkot di Bandung tersebar. Perlu komunikasi yang baik untuk menghasilkan solusi yang menguntungkan semua pihak. Rute angkot yang berlaku saat ini juga harus dikaji ulang dan disesuaikan dengan pola pergerakan penumpang mutakhir. Dan yang tidak kalah penting adalah "mendidik" penumpang (selain supir) untuk disiplin naik-turun di halte.

Ke depannya, tentu, Bandung harus bergerak ke arah transportasi massal yang lebih efisien. Pemkot sudah mencanangkan konversi tiga angkot menjadi satu bus, yang mudah-mudahan terlaksana tahun ini. Jikapun terlaksana, PR-PR yang menumpuk dari pembenahan angkot tidak serta-merta hilang dengan konversi menjadi bus. Rute tetap harus dikaji ulang. Penumpang dan supir tetap harus dididik. Dan seandainya ada (banyak) supir yang kehilangan pekerjaan, dampak sosialnya tetap harus ditangani.

Dan bicara soal angkutan umum massal, walaupun selalu bagus di atas kertas, modal yang besar ditambah rekam jejak pembangunannya di Indonesia layak membuat kita berhati-hati. Masih ingat monorail Jakarta yang mangkrak? Bahkan pembiayaan LRT Jabodetabek sempat tersendat, walaupun akhirnya dicapai kesepakatan. Tapi yang patut dicermati juga adalah integrasi antarmoda. Lagi-lagi kasus Jakarta layak menjadi pelajaran. Jangan sampai alih-alih menjadi solusi, Bandung menjadi centang-perenang dengan berbagai angkutan yang tidak terintegrasi. Dan alasan kedua mengapa angkot masih dibutuhkan: banyak jalan di Bandung yang sempit dan pendek, tidak memungkinkan untuk kendaraan berukuran besar. Oleh karenanya angkot harus diarahkan untuk melayani jalan-jalan ini, sekaligus menjadi pengumpan untuk angkutan umum massal yang beroperasi di jalan-jalan utama.


Lalu Apa yang Salah dengan Angkutan Online?
Jika angkutan online digunakan sebagai suplemen untuk ceruk pasar yang tidak terjangkau angkutan umum, sebenarnya tidak masalah. Tapi perlu digarisbawahi bahwa taksi dan ojek, baik online maupun konvensional, bukan angkutan umum. Semangat awal angkutan online adalah ekonomi berbagi, mengoptimalkan kendaraan yang "menganggur" sehingga bisa dipakai orang yang tidak memiliki kendaraan. Seharusnya skema ini bisa mengurangi jumlah kendaraan yang beredar. Nyatanya yang terjadi adalah peningkatan penjualan kendaraan untuk ditaksikan/diojekkan.

Semakin banyak orang yang mengabaikan kendaraan umum untuk angkutan online (dan kendaraan pribadi), semakin kita menuju situasi yang mirip tragedi kepemilikan bersama. Sumber daya yang diperebutkan adalah jalan umum yang kapasitasnya terbatas, dan setiap orang berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin tanpa memedulikan kebutuhan orang lain. Hal ini sudah jamak terjadi di daerah-daerah tanpa angkutan umum yang memadai. Sungguh sayang jika ini terjadi di Bandung yang setidaknya memiliki angkutan umum walaupun banyak kekurangan.

___________________
PS: Ada banyak hal yang tidak terbahas dalam tulisan ini, tapi setidaknya ada dua hal yang menjadi catatan. Pertama, aksi mogok angkot vs angkutan online sebenarnya terjadi di beberapa kota, namun tulisan ini hanya berfokus pada Bandung. Situasi di kota lain tentunya berbeda.
Kedua, saya tidak membahas tentang ketidakadilan ekonomi yang setidaknya punya dua dimensi: angkutan online tidak bisa menjangkau semua orang karena tidak semua orang memiliki akses, dan ketidaksetaraan persaingan karena subsidi masif yang diterima angkutan online untuk merebut pasar. Beberapa bacaan menarik:
- What if Uber kills off public transport rather than cars?
- Uber Actually Makes Public Transit Better, But Mostly for the Rich
- “They Can Just Take an Uber”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar