03 Maret 2017

740

Di dekat kantor saya ada tukang nasi kuning. Lumayan enak. Saya kadang-kadang beli sebungkus kalau belum sarapan. Tapi di saat saya gak butuh sarapan, keberadaan tukang nasi kuning itu lebih sering membuat saya kesal. Bukan apa-apa. Jualannya di pinggir jalan dengan pembeli yang duduk memenuhi trotoar. Kadang-kadang saya mengalah dan turun ke jalan. Akhir-akhir ini saya gak mau mengalah, cuek saja lewat tanpa permisi di depan orang-orang yang sedang makan, kalau perlu menggeser-dengan-kaki-setengah-menendang kursi plastik yang menghalangi jalan.

Tindakan saya itu, menurut etiket yang diajarkan orang tua saya, sangat tidak sopan. Saya sadar sih, dan saya nggak akan melakukannya di restoran atau tempat lain yang memang diperuntukkan untuk duduk. Masalahnya fungsi trotoar bukan untuk diduduki melainkan tempat orang berjalan kaki. Begitu menurut KBBI dan rasanya menyebalkan sekali bahwa saya harus menggunakan kamus untuk sesuatu yang harusnya sudah diketahui setiap orang dari segala usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pilihan gubernur DKI.


Jadi saya tidak sopan, tapi saya merasa berhak untuk tidak sopan terhadap orang-orang yang melanggar hak saya.

Benarkah?

Berapa sering kita mendengar alasan "Ah yang nyontek/curang/korupsi/salam-tempel/buang-sampah-sembarangan/naik-motor-tanpa-SIM juga banyak, kenapa saya gak boleh?" Ketika orang lain melanggar aturan, sebagian dari kita merasa berhak melakukan pelanggaran yang sama. Dan ketika hak kita dilanggar, sebagian dari kita merasa berhak balas melanggar hak orang lain.

Empati. Ketika hak kita dilanggar, kita jadi kehilangan empati. Padahal di situlah nilai kita sebagai manusia. Buah simalakamanya, duduk di tengah trotoar pun salah satu bentuk kehilangan empati. Dan seandainya saya memilih turun ke jalan, mudah membayangkan kekesalan pengguna jalan lain yang haknya saya langgar sementara saya sendiri kesal karena harus membahayakan  diri saya gara-gara sekelompok orang ingin sarapan nasi kuning di trotoar.

Empati bisa dimulai dari menaati aturan, atau bahkan menaati definisi KBBI. Terdengar super membosankan, memang. Mungkin juga sulit dibuktikan sampai aturan itu dilanggar dan rekening empati kita menjadi defisit secara berjamaah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar