02 April 2017

742

He works.

He really really works. I'm, of course, talking about Donald Glover.

I love 30 Rocks. I'm not really into rap/hiphop but I dig some of Childish Gambino's songs. But I really, absolutely adore Troy Barnes. And Troy has so much Donald in him. And Dan Harmon and Chris McKenna love him they returned to Community on the condition that Donald was on board.

So yeah, I had high hopes for Atlanta. That's why it was a bummer that I struggled through the first three episodes. I blamed it on Donald wants to make people feel black. And yeah, despite many critics praises, the show was called challenging and even surreal.


Leaving my comfort zone (these days it's Castle), I continued watching and I started getting the hang of Earn and the other characters. And the next thing I know I was on the last episode and it was brilliant. And I felt I was missing out. I had gaps to fill and questions need answers. So I started watching again from the first episode.

It might be wishful thinking but I enjoyed the rewatch. The show is smart—whatever that means. (You can say it's smart unlike Silicon Valley is smart because it's filled with nerdy jokes, but smart as the characters make dead-point remarks on some issues and that Earn is a Princeton drop out and all that. That too, but it's more than that) It's beautifully shot (Hiro Murai directs music videos, including Chlidish Gambino's) with details that are easily overlooked on casual watching. It is surreal but grounded—if that makes any sense at all. Earn is surely not Troy, but there is sincerity that I love about Troy emanates from Earn. I had a few LOL moments but in general the comedy is subtle. Donald being a stand up comedian and his constant one-liner in Community sort of prepare you for 'something broader, more accessible and overtly comedic', but Atlanta is just... that. And I'm content with that just like Earn is content of what he becomes in the finale.


And the music, of course, is just perfect

14 Maret 2017

741

Beberapa waktu yang lalu, angkot (angkutan kota) se-Bandung Raya mogok massal.

Foto diambil dari sini.

Mereka berunjuk rasa atas maraknya angkutan online yang menggerus pendapatan mereka. Banyak pengguna kendaraan pribadi dan angkutan online bersorak-sorai gembira karena seharian banyak jalan yang biasanya macet menjadi agak longgar. Sebaliknya banyak pengguna angkot terpaksa diangkut polisi atau Pak Camat, naik taksi atau ojek baik online maupun konvensional, naik kendaraan pribadi, berjalan kaki, atau bahkan batal bepergian sama sekali.

Bukan sekali ini saja angkot Bandung mogok. Dan bukan sekali ini juga sorak-sorai dan seruan agar angkot dihilangkan saja menyeruak. Sebagai awam dan pengguna angkot, pandangan saya tentu bias. Tapi saya ingin para penentang angkot sedikit saja mempertimbangkan hal-hal berikut ini.


Yang Pertama Adalah Angkutan Umum
Setiap kota yang fungsional membutuhkan angkutan umum yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan. Angkutan umum memungkinkan efisiensi penggunaan jalan—yang artinya menghindarkan kemacetan dan pencemaran udara—sekaligus memeratakan akses mobilitas.

Apakah angkot di Bandung sudah memenuhi fungsi-fungsi di atas? Memang belum sepenuhnya, tapi juga bukannya tidak sama sekali. Angkot di Bandung memang memiliki sederet masalah: sering ngetem sembarangan, supir ugal-ugalan, tarif tidak jelas, penumpang naik-turun seenaknya, dan rute yang sudah tidak mengakomodir pergerakan warga. Tapi pada kenyataannya, saat ini angkutan umum yang tersedia di Bandung hanyalah bus kota dan angkot. Jangkauan angkot saat ini lebih luas dari bus yang rutenya masih terbatas. Dengan segala kekurangannya, inilah angkutan umum yang dimiliki Bandung sekarang.


Kenapa Harus Angkot?
Sebenarnya dengan prinsip di atas, ya nggak harus angkot juga sih. Tapi ada beberapa alasan mengapa menurut saya, jika dilakukan pembenahan, angkot masih layak dipertahankan.

Pertama, biaya pembenahan angkot lebih kecil dibandingkan pengadaan angkutan umum yang lain. Setidaknya pembenahan angkot hanya memerlukan sedikit perbaikan/pembangunan infrastruktur berupa halte—yang bahkan bisa ditekan dengan hanya membuat penanda seperti di gambar ini. Oya, dan perbaikan trotoar, tapi apapun angkutan umumnya, trotoar tetap harus diperbaiki. Mobil-mobil memang harus diremajakan, tapi bisa dilakukan bertahap. Jika konversi tiga-angkot-menjadi-satu-bus jadi dilakukan, angkot-angkot yang sudah uzur bisa didahulukan.

Yang jauh lebih sulit dibandingkan pembangunan infrastruktur adalah pembenahan sistem. Sebagian perilaku angkot yang menyebalkan disebabkan karena angkot masih menganut sistem kejar setoran. Jika supir angkot digaji per km perjalanan (idealnya oleh pemerintah), perilaku seperti ngetem atau ugal-ugalan bisa dihindarkan. Kendalanya, kepemilikan angkot di Bandung tersebar. Perlu komunikasi yang baik untuk menghasilkan solusi yang menguntungkan semua pihak. Rute angkot yang berlaku saat ini juga harus dikaji ulang dan disesuaikan dengan pola pergerakan penumpang mutakhir. Dan yang tidak kalah penting adalah "mendidik" penumpang (selain supir) untuk disiplin naik-turun di halte.

Ke depannya, tentu, Bandung harus bergerak ke arah transportasi massal yang lebih efisien. Pemkot sudah mencanangkan konversi tiga angkot menjadi satu bus, yang mudah-mudahan terlaksana tahun ini. Jikapun terlaksana, PR-PR yang menumpuk dari pembenahan angkot tidak serta-merta hilang dengan konversi menjadi bus. Rute tetap harus dikaji ulang. Penumpang dan supir tetap harus dididik. Dan seandainya ada (banyak) supir yang kehilangan pekerjaan, dampak sosialnya tetap harus ditangani.

Dan bicara soal angkutan umum massal, walaupun selalu bagus di atas kertas, modal yang besar ditambah rekam jejak pembangunannya di Indonesia layak membuat kita berhati-hati. Masih ingat monorail Jakarta yang mangkrak? Bahkan pembiayaan LRT Jabodetabek sempat tersendat, walaupun akhirnya dicapai kesepakatan. Tapi yang patut dicermati juga adalah integrasi antarmoda. Lagi-lagi kasus Jakarta layak menjadi pelajaran. Jangan sampai alih-alih menjadi solusi, Bandung menjadi centang-perenang dengan berbagai angkutan yang tidak terintegrasi. Dan alasan kedua mengapa angkot masih dibutuhkan: banyak jalan di Bandung yang sempit dan pendek, tidak memungkinkan untuk kendaraan berukuran besar. Oleh karenanya angkot harus diarahkan untuk melayani jalan-jalan ini, sekaligus menjadi pengumpan untuk angkutan umum massal yang beroperasi di jalan-jalan utama.


Lalu Apa yang Salah dengan Angkutan Online?
Jika angkutan online digunakan sebagai suplemen untuk ceruk pasar yang tidak terjangkau angkutan umum, sebenarnya tidak masalah. Tapi perlu digarisbawahi bahwa taksi dan ojek, baik online maupun konvensional, bukan angkutan umum. Semangat awal angkutan online adalah ekonomi berbagi, mengoptimalkan kendaraan yang "menganggur" sehingga bisa dipakai orang yang tidak memiliki kendaraan. Seharusnya skema ini bisa mengurangi jumlah kendaraan yang beredar. Nyatanya yang terjadi adalah peningkatan penjualan kendaraan untuk ditaksikan/diojekkan.

Semakin banyak orang yang mengabaikan kendaraan umum untuk angkutan online (dan kendaraan pribadi), semakin kita menuju situasi yang mirip tragedi kepemilikan bersama. Sumber daya yang diperebutkan adalah jalan umum yang kapasitasnya terbatas, dan setiap orang berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin tanpa memedulikan kebutuhan orang lain. Hal ini sudah jamak terjadi di daerah-daerah tanpa angkutan umum yang memadai. Sungguh sayang jika ini terjadi di Bandung yang setidaknya memiliki angkutan umum walaupun banyak kekurangan.

___________________
PS: Ada banyak hal yang tidak terbahas dalam tulisan ini, tapi setidaknya ada dua hal yang menjadi catatan. Pertama, aksi mogok angkot vs angkutan online sebenarnya terjadi di beberapa kota, namun tulisan ini hanya berfokus pada Bandung. Situasi di kota lain tentunya berbeda.
Kedua, saya tidak membahas tentang ketidakadilan ekonomi yang setidaknya punya dua dimensi: angkutan online tidak bisa menjangkau semua orang karena tidak semua orang memiliki akses, dan ketidaksetaraan persaingan karena subsidi masif yang diterima angkutan online untuk merebut pasar. Beberapa bacaan menarik:
- What if Uber kills off public transport rather than cars?
- Uber Actually Makes Public Transit Better, But Mostly for the Rich
- “They Can Just Take an Uber”

03 Maret 2017

740

Di dekat kantor saya ada tukang nasi kuning. Lumayan enak. Saya kadang-kadang beli sebungkus kalau belum sarapan. Tapi di saat saya gak butuh sarapan, keberadaan tukang nasi kuning itu lebih sering membuat saya kesal. Bukan apa-apa. Jualannya di pinggir jalan dengan pembeli yang duduk memenuhi trotoar. Kadang-kadang saya mengalah dan turun ke jalan. Akhir-akhir ini saya gak mau mengalah, cuek saja lewat tanpa permisi di depan orang-orang yang sedang makan, kalau perlu menggeser-dengan-kaki-setengah-menendang kursi plastik yang menghalangi jalan.

Tindakan saya itu, menurut etiket yang diajarkan orang tua saya, sangat tidak sopan. Saya sadar sih, dan saya nggak akan melakukannya di restoran atau tempat lain yang memang diperuntukkan untuk duduk. Masalahnya fungsi trotoar bukan untuk diduduki melainkan tempat orang berjalan kaki. Begitu menurut KBBI dan rasanya menyebalkan sekali bahwa saya harus menggunakan kamus untuk sesuatu yang harusnya sudah diketahui setiap orang dari segala usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pilihan gubernur DKI.


Jadi saya tidak sopan, tapi saya merasa berhak untuk tidak sopan terhadap orang-orang yang melanggar hak saya.

Benarkah?

Berapa sering kita mendengar alasan "Ah yang nyontek/curang/korupsi/salam-tempel/buang-sampah-sembarangan/naik-motor-tanpa-SIM juga banyak, kenapa saya gak boleh?" Ketika orang lain melanggar aturan, sebagian dari kita merasa berhak melakukan pelanggaran yang sama. Dan ketika hak kita dilanggar, sebagian dari kita merasa berhak balas melanggar hak orang lain.

Empati. Ketika hak kita dilanggar, kita jadi kehilangan empati. Padahal di situlah nilai kita sebagai manusia. Buah simalakamanya, duduk di tengah trotoar pun salah satu bentuk kehilangan empati. Dan seandainya saya memilih turun ke jalan, mudah membayangkan kekesalan pengguna jalan lain yang haknya saya langgar sementara saya sendiri kesal karena harus membahayakan  diri saya gara-gara sekelompok orang ingin sarapan nasi kuning di trotoar.

Empati bisa dimulai dari menaati aturan, atau bahkan menaati definisi KBBI. Terdengar super membosankan, memang. Mungkin juga sulit dibuktikan sampai aturan itu dilanggar dan rekening empati kita menjadi defisit secara berjamaah.

23 Oktober 2016

739

Gambar nemu di google, aslinya karya siapa-lagi-kalau-bukan
Agan Harahap, tapi sepertinya sudah dihapus.
Tahun 2008, seorang politisi Belanda berambut aneh dengan nama Geert Wilders merilis sebuah film pendek berjudul Fitna. Film ini menggambarkan Islam sebagai agama haus darah dan ayat-ayat Al Quran menganjurkan kekerasan. Karena film ini, pada tahun 2009 Wilders diadili dengan tuduhan diskriminasi dan menyulut kebencian. Setahun kemudian, suara Partai Kebebasan (PVV) yang dipimpin Wilders melonjak menjadi 15,5% (24 kursi parlemen) dari hanya 5,9% suara (9 kursi parlemen) di taun 2006. Apakah masyarakat Belanda setuju dengan Wilders, atau Islamofob, atau bahkan xenofob (karena Wilders bersuara keras pada imigran pada umumnya)? Sebagian besar yang saya tahu sangat toleran terhadap perbedaan. Suara PVV melonjak karena masyarakat Belanda juga sangat menghargai hak berpendapat bebas (sekonyol apapun pendapat itu), dan pengadilan terhadap Wilders merupakan ancaman terhadap hak tersebut. (1)

KTP saya Bandung. Ke Jakarta hanya sesekali, itupun seputaran Sudirman-Thamrin atau melipir tol lingkar luar. Saya gak mempertaruhkan apapun dalam pemilihan gubernur Jakarta, selain bahwa Jakarta adalah ibukota Indonesia dan mungkiiin menjadi acuan bagi daerah-daerah lain (iya gitu?) Tapi siapa sih di Republik ini yang punya akses internet dan/atau menonton televisi yang bisa menghindar dari hiruk-pikuk pilgub Jakarta? Dan bahwa pilgub ini citarasanya sungguh mirip pilpres 2014 hingga bahkan seorang teman beropini bahwa pandangan politik orang Indonesia sudah mengeras jadi dua kutub (2), tentunya sulit diabaikan. Karena mengganggu. Sangat. Sehingga saya memutuskan ikut berpendapat untuk sekedar bersih-bersih otak. Di sini saja karena blog ini sudah jarang diperbarui, apalagi dibaca. Nggak konsisten? Memang, karena bukankah setiap orang akan standar ganda pada waktunya?

Dulu sih saya pernah berpendapat kalau seorang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bisa jadi presiden, artinya Indonesia sudah selesai sebagai negara. Selesai dalam artian positif, sudah bisa mengatasi perbedaan hal-hal remeh-temeh seperti SARA, dan siap mengurusi kesejahteraan rakyat atau mengirim atlet ke Olimpiade Musim Dingin. Prasyarat dari pendapat saya itu adalah Ahok memang kompeten sebagai seorang pemimpin. Akhir-akhir ini, kompetensi itu saya ragukan. Alasannya ada dan panjang dan saya malas membahasnya di sini. Tapi kalau saya punya KTP Jakarta dan pilgub diadakan sekarang, kemungkinan saya gak akan memilih Ahok. Bukan karena dia Cina, bukan karena dia Kristen, tapi karena saya meragukan kemampuannya membuat Jakarta lebih baik untuk jangka panjang atau, setidaknya selama masa kepemimpinannya.

Tapi lalu saya kesandung tulisan ini di facebook. Intinya Ahok layak dipilih setidaknya untuk menguji kesiapan kita menerima perbedaan, atau istilah beliau, menguji kapasitas multikulturalisme. Seperti rakyat Belanda yang memilih Wilders untuk membela ideal yang lebih tinggi, sekalipun kurang kompeten Ahok layak dipilih demi 'menyelesaikan' Indonesia (3).

Saya setuju gagasannya. Tapi sedih juga. Betapa kita ternyata masih jauh dari 'selesai'. Baik dari segi memilih pemimpin yang kompeten maupun dari segi menerima perbedaan. Dan pada akhirnya tulisan ini pun tidak jadi apa-apa, karena saya bukan warga Jakarta.
__________________________________
(1) Akhir bulan ini, Wilders akan kembali diadili dengan tuduhan yang sama. Sejarah akan berulang?
(2) Saya gak setuju sih soal dua kutub ini. Dan mudah dibuktikan. Tahun 2014 saya pilih Jokowi kok.
(3) Dan untuk 'ormas Islam' yang ribut mau menuntut Ahok karena penistaan agama, percaya deh kalo keberisikan kalian itu pada akhirnya akan lebih menguntungkan Ahok. Walaupun SBY yang menulis buku petunjuk Bagaimana Memenangkan Pemilu dengan Berperan Sebagai Korban, kali ini bukan Agus Yudhoyono yang akan mempraktekkannya.

27 Juni 2016

738


(SPOILER ALERT)

I almost cried seeing this scene last week. Or maybe I did. Richard Hendricks, after finally being the CEO of the company of his dream and launching a product that he was proud of, crouched on a not-so-clean bathtub, hiding from the fact that his platform was too advanced for average users. The sad thing is, this one was on him. You can blame almost everything that happened to him on someone else: Gavin Belson, Russ Hanneman, Action Jack Barker, even his accidentally talking to Code/Rag's CJ was partially Laurie Bream's fault. But he massaged his ego, failed to take into account Monica's input, and finally launched a platform that may or may not be Skynet, that was definitely on him.

Some people say that Silicon Valley is the nerdy version of Entourage, except that nothing's working out in Silicon Valley. That is probably 90% accurate. It seems like the creators (I'm using this term loosely) like to punish Richard—see above. But most of the time you can see it coming, not because it happens so many times, but because no actions without consequences in this show.

Post-Community, Silicon Valley is so far the only sitcom that meets my renewed standard. Not only it's funny but it is also—like Community—believable. Okay, there are some details that are not quite right for the sake of the story but overall I buy the idea. Or the characters, to be precise.

Richard is of course the key. You see him evolving from this nice guy ("Richard, if you're not an asshole, it creates this kind of asshole vacuum and that void is filled by other assholes"), to a guy who reluctantly took the left hand path, to post R.I.G.B.Y, and finally to a guy who messed up Hooli's system (or Gavin Belson's laptop). Richard is maybe this stereotypical geek who becomes highly inarticulate when he's nervous, but aren't we all (I know I do). He failed to score a girl not because he was incapable socially, but because he was a formatting Nazi about tab vs space that, as unbelievable as it may sound, does exist. The point is, Richard and all the characters are treated with respect, even when the characters are borderline caricatures like Erlich or Gavin. And that attitude, that respect, enables the geekiest d*ck joke of all time.


PS: My favorite character in Season 3 is Jared. Laurie is a close second. I hope she still makes appearances in Season 4.

05 Mei 2016

737

It's been three weeks since my PhD defence. I'm supposed to work on an article revision, but I'm still in vacation mode (I'm, afterall, on a rare three-months leave). So instead, I decide to upload the propositions that accompany my thesis.


I heard that in the old days, the propositions were the thesis and the book was the supplement. Anyway, they're a series of statement that we're supposed to offer based on our research or observations, and they're supposed to be challenging the generally accepted knowledge, refutable, and dependable. Inspired by this, I made a rather lengthy explanation of my propositions as an exercise for my defence. So here goes.


1. Rubber seed can provide for half of the required protein source for animal feed in Central Kalimantan, Indonesia. (This thesis)

In 2014, there were 108,000 ruminants, 8.3 million chicken, and 183,500 pigs in Central Kalimantan (BPS Kalimantan Tengah 2014). This translates to 61,600 tonnes protein requirement. Rubber seed can potentially provide 32,000 tonnes protein, collected from 268,800 hectares of rubber plantations, and equals to 51% of the required protein source for animal feed in Central Kalimantan.


2. Selective hydrolysis of agro-industrial residues using proteases can produce hydrolysates with twice the concentration of hydrophobic amino acids as in the starting materials. (This thesis)

The complete discussion can be found in the article by Widyarani et al. (2016).


3. As the difference between Western and Asian cuisines can be broken down into flavour compounds (Ahn et al. 2011), gastronomy may also have a genetic basis.

I think we agree, even if only by hunch, that Western and Asian foods are different. Why a certain ingredient combination is favoured in one region and another combination is favoured in another maybe just a happenstance. However, Ahn et al. (2011) used a large recipe database and mapped the flavour compounds in the culinary ingredients to make networks of shared compounds, and they found that “Western cuisines show a tendency to use ingredient pairs that share many flavor compounds,” while “East Asian cuisines tend to avoid compound sharing ingredients.” So the proposition refers to the ingredient selection in Western and Asian cuisines. A chef preparing a Western cuisine would select, for instance two ingredients with a lot of molecule X. On the other hand, a chef preparing Asian cuisine would select one ingredient with a lot of X molecule and a second ingredient with a lot of Y molecule. This suggests that perceptions of these molecules may be different for Western and Asian people, at least once upon a time when we haven’t been exposed to globalisation. Several recent studies show that genetic may be responsible to reception of flavours and perception of odours (Eriksson et al. 2012;  Newcomb, Xia, and Reed 2012; Jaeger et al. 2013; Knaapila et al. 2012). This might explain for example why some people like cilantro while others dislike it. These findings may help us understanding the science of gastronomy and creating ‘better’ food—probably even tailor-made to genes. They may also add to the understanding of food allergy and why certain types prevail in one group of people but not in the other.


4. Including viruses in the phylogenetic tree of life (Nasir and Caetano-Anollés 2015) may not be scientifically correct, but could give a better understanding of their origin and evolution offering practical benefits in medicine and ecology.

Nasir and Caetano-Anollés (2015) analysed and classified viruses and single cell organisms based on protein structures called “folds”. These structures are conserved in cells and viruses, enable investigation of their evolutionary histories. Viruses are often classified as non-living things because they cannot reproduce independently but require assistance from “living” hosts. However, viruses have genetic materials (and do replicate, albeit with help) and can evolve as more complex organisms do. This comparison enables the mapping of viruses into what the authors proposed as the universal tree of life, consequently also classified viruses as living things. Whether this is appropriate is more of a philosophical debate than a “hard” scientific one. However, the understanding of virus’ evolution will give new insights into the role of viruses in different aspect of life, the benefit outweighs the glitch of classification inconsistency.


5. The definition of insanity as doing the same thing over and over and expecting it to come out different does not apply to working with biomass.

One of the main principles of scientific methods is reproducibility. Reproducible experiment or study means that if said experiment/study is repeated in the exact manner as the previous—whether by the same researcher or someone else—it will yield the same result. ‘Doing the same thing over and over and expecting it to come out different’ is exactly the opposite of reproducibility. As a scientist, whenever I repeat an experiment, I want exactly the same result as my previous experiment to have a solid data. Unfortunately with biomass—be it microorganisms or plant or animal parts—this is often not the case. Cells might respond differently to even slight changes in the environment. Plant and animal parts are not homogenous, no matter how careful your sample pre-treatment was. In general, 10% standard deviation will make me happy.

By the way, the original phrasing of this proposition was:
Whoever agrees that ‘the definition of insanity is doing the same thing over and over and expecting it to come out different’ clearly has never worked with biomass.
The phrase ‘the definition of insanity is doing the same thing over and over and expecting it to come out different’ is often attributed to Albert Einstein, but almost definitely not his. But still it’s being used over and over because Einstein is famous for his wittiness on the internet *chuckle*



6. Science-fiction overestimated our progress in space travel and the quest for unlimited energy, but underestimated our progress in information technology.

21 October 2015 was the day Doc Brown and Marty McFly was supposed to arrive on their journey to the future. Jimmy Kimmel even invited Doc and Marty to his show.


On that day, we were supposed to have hoverboards and flying cars that use banana peels as fuel. If Arthur C. Clarke and Stanley Kubrick were to be referred, we should already had a habitat on the Moon. Neither of these had come to fruition, and energy crisis is not something that we can remove from our dictionary anytime soon. We, however, do have phones that enable us to watch TV shows in toilets and enable astrophysicists to triangulate complex equations, although the former use is more to be expected. Our achievements in information (Montuschi et al. 2014) are something that even Clarke or Kubrick or Douglas Adams had not had imagined.

Marieke asked two questions about this proposition. I of course mentioned 2001, which I think is an important milestone (That was the word I was looking for. Milestone! Aaaarggghhh!). I totally forgot about The Martian, which was a perfect example of biorefinery (comapred to Back to the Future 2 which I proposed). All in all we spent about five minutes discussing books and movies and I think that was really cool.


7. Due to the liberal sugar packaging, drinking tea or coffee in the Netherlands is an energy-wasting activity.

On average, Dutch people consume 6.7 kg of coffee and 0.98 kg of tea per person per year on a dry weight basis. Assuming one cup requires 7 g of roasted coffee, the daily consumption was 2.6 cups per person in 2013 (2.4 cups per person in 2014 according to Washington Post), making the Dutch one of the heaviest coffee drinkers in the world—number 1 or number 3 depending on the metric used. Tea consumption is much lower, less than one cup daily (based on 3 g of black tea per cup), only number 35 worldwide. However, I have seen my colleagues drink more than four cups during office hours alone. 

Whether in restaurants/cafes or in offices, tea and coffee are often served with sugar in either ‘small’ packets or as sugar cubes. A typical sugar packet is 3-5 g, while sugar cubes have three different sizes: standard (4.4 gram), medium (3.9 gram) and small (3.1 gram). I sometimes put sugar in my drink, but 3 gram is at least twice as the amount that I use. I’m sure a lot of people feel the same. So here’s the flowchart of most possibilities of what you can do in this situation. 



PS: On my flight back I just realised that a sugar packet onboard Garuda Indonesia contained 6 g of sugar. So maybe sugar packaging in the Netherlands isn't that liberal afterall :(

15 Maret 2016

736

Siapa bilang urang Sunda nggak bisa bilang 'F'? Itu mah pitnah!
-mangga di-google sendiri sumbernya

Saya teh gak ngerasa sunda-sunda amat sebenarnya. Dulu waktu SD di Bandung, bahasa Sunda saya paling berantakan dibanding teman-teman yang bahasa ibunya di rumah bahasa Sunda. Tapi beberapa waktu yang lalu saya menemukan bahwa di saat panik dan pikiran kacau, saya justru meracau dalam bahasa Sunda campur Inggris. Gak tau juga kenapa.

Tidak seperti mitos tentang orang Sunda, dalam keadaan normal saya bisa mengucapkan p, f, v, dan ph (bahasa Inggris) dengan baik, pun bisa membedakannya dalam menulis. Tapi hidup kan gak rame kalo datar-datar aja. Entah kenapa di Belanda saya malah sering ketuker antar p dan f/v. Biasanya kalo lagi kangen rumah. Dan kondisi ini gak menjadi lebih mudah ketika saya masuk grup Valorization of Plant Production Chains yang disingkat... VPP :(

Jadi saya berkeyakinan pabeulit p, f, v ini sebenarnya bukan karena gak bisa, tapi lebih subtil dan di bawah sadar. Contohnya ini:

Udah ada contohnya aja masih salah
pree farking fee? 

Salah satu huruf, itungan bubar


I'm Vorrest... Vorrest Gumf

Bahkan ketika nulis tangan sekalipun
Ya udah sik mau gimana lagi. Untung kalo ngisi formulir, P untuk perempuan sama artinya dengan F untuk female. Aman.